Diwarnai Kisah Haru, Dwi Pantang Menyerah Bebaskan Warga Desa dari Pemasungan

Jakarta, Gangguan jiwa selama ini kerap menjadi momok menakutkan bagi masyarakat, sehingga terkadang pemasungan dianggap menjadi jalan terbaik. Padahal, jika diberikan pengobatan yang tepat gangguan jiwa juga bisa disembuhkan.

Demikian disampaikan oleh Dwi Juli Kusmorop (33). Warga Tasikmalaya yang kini aktif sebagai Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) di Kecamatan Pagerageung, Tasikmalaya ini pun pantang menyerah memperjuangkan warga-warga di sekitarnya untuk terbebas dari pemasungan.

Kepada detikHealth, Dwi menceritakan kisahnya saat berupaya menyembuhkan Agus (20) sekitar akhir Januari 2016 ini. Agus merupakan warga Kampung Puteran Kidul, Pagerageung, yang sudah dipasung oleh pihak keluarganya selama sekitar empat tahun.

Awal mula pemasungan ini dilakukan ketika saat masih berusia 15 tahun, Agus tiba-tiba menghilang dari rumahnya. Ia ditemukan di kebun bambu dengan jarak sekitar 800 meter dari rumahnya, tiga hari setelah hilang. Namun pasca kejadian tersebut, Agus menjadi pendiam dan suka mengamuk.

“Jadi Agus dibuatkan saung di belakang rumahnya. Di situ dia sendirian, tidak bisa berbicara dan aktivitasnya hanya makan. Pemasungan ini dilakukan keluarganya karena dia pernah ngamuk dan berupaya membakar dirinya di kasur. Dia juga pernah mau membakar rumah dan melempar-lempar rumah lain,” tutur Dwi.

Kondisi Agus di saung tersebut hampir tidak mengenakan pakaian dan hampir selalu berada dalam posisi jongkok sepanjang hari. Kondisi ini pun membuat kaki Agus sulit ditekuk dan hampir tidak bisa digerakkan.

Ibu RT di rumah Agus ini pun melaporkan kasus ini ke Dwi, dengan harapan Agus bisa disembuhkan dan diberikan pengobatan. Dwi pun lantas mendatangi rumah Agus, melakukan komunikasi dengan puskesmas setempat dan berupaya evakuasi. Bukan perkara mudah, ia ingin upaya evakuasi dilakukan dengan baik-baik dan dengan persetujuan keluarga, terutama ibu Agus.

“Harus ada upaya pendekatan dulu, termasuk ke masyarakat juga harus diberikan pengertian bahwa ini bisa diobati. Diperlakukan seperti ini kan tidak baik juga. Saya percaya kita harus berikhtiar dan berdoa. Alhamdulillah akhirnya keluarga dan masyarakat mau. Setelah itu saya berusaha mendekati Agusnya juga,” ujarnya.

Sudah pernah kenal sebelumnya, Dwi menjadi lebih mudah saat ‘membujuk’ Agus. Proses evakuasi pun bisa berjalan dengan lancar. Saat itu Agus dibawa oleh ambulans puskesmas setempat ke RSJ Provinsi Jawa Barat, yang terletak di Cisarua. Perjalanan selama sekitar enam jam pun dilalui tanpa ada reaksi berbahaya dari Agus.

“Di rumah sakit dia mendapatkan perawatan yang sangat baik, terapi jalan juga tiap pagi biar bisa jalan lagi. Setelah hampir dua pekan dirawat, kami jemput lagi. Alhamdulillah kemajuannya pesat, dia bisa ngomong, bisa jalan pelan-pelan. Bahkan dia sempat minta belikan kaus, ini kan berarti dia sudah mau berpakaian lagi,” imbuhnya.

Pada bulan Ramadan kemarin, Dwi sempat kembali mengunjungi Agus. Ia menuturkan Agus sudah bisa berpuasa dan salat. Kemajuan Agus benar-benar membuat Dwi terharu. Sayangnya, beberapa hari menjelang Hari Raya Idul Fitri, Agus meninggal dunia ketika sedang salat.

Baca juga: Risiko Demensia Seseorang Meningkat Pasca Mengalami Bencana Alam

Menurut informasi, tidak diketahui secara pasti penyebab kematian Agus. Dwi menjelaskan bahwa Agus tiba-tiba meninggal saat sedang salat. Hal ini pun membuat Dwi sempat tak percaya. “Namun paling tidak, ia meninggal dalam kondisi sudah bisa berpuasa dan salat, sudah bisa ibadah. Dulu waktu dipasung kan boro-boro bisa ibadah dan ke masjid,” tutur Dwi.

Upaya pembebasan Agus ini merupakan salah satu pengalaman yang sangat mengharukan bagi Dwi. Ia bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk membantu pengobatan Agus. Dwi sendiri menuturkan bahwa dirinya menjadi anggota TKSK sejak tahun 2009. TKSK sendiri dijelaskan oleh Dwi memiliki tugas melaksanakan pendampingan sosial dalam penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di tingkat kecamatan.

“Tenaga ini bersifat sukarela, seadanya lah, tapi saya puas batin. Senang bisa membantu orang banyak. Ke depannya saya dan teman-teman berharap bisa membantu lebih banyak lagi mereka yang membutuhkan bantuan sosial,” tuturnya.

Baca juga: Cerita Pria yang Berusaha Sembuh dari Kecanduan Main Games 50 Jam Seminggu(ajg/vit)

Source link

Artikel lain yang patut anda baca:

Pencarian yg berkaitan dengan artikel ini:

tante vs kid, tante vs