Kasper Schmeichel, Jelmaan ‘The Incredible’ di Leicester  

 

Jum’at, 04 November 2016 | 11:09 WIB

Kasper Schmeichel, Jelmaan 'The Incredible' di Leicester  

Ekspresi kiper Leicester, Kasper Schmeichel, dalam pertandingan Liga Inggris melawan Aston Villa di Stadion Villa Park, 16 Januari 2016. Reuters / Darren Staples

TEMPO.CO, Jakarta – Hampir setahun silam, para pemain Leicester City menghabiskan waktu akhir pekannya di Copenhagen, Denmark. Dalam sebuah pesta, mereka berdandan ala superhero, seperti Batman, Kura-kura Ninja, Power Rangers, dan tokoh The Incredible—yang dipakai oleh kiper Kasper Schmeichel.

Kemarin dinihari, mereka datang lagi ke Copenhagen. Tak ada kostum superhero kali ini. Begitupun dengan Kasper. Pemain berumur 30 tahun ini mengenakan baju warna hijau—khas kaus kiper—bukan warna merah layaknya kostum yang dipakai karakter itu.

Namun, saat berlangsung laga Leicester melawan Copenhagen FC di Grup G Liga Champions, Schmeichel tampil perkasa layaknya karakter dalam The Incredible itu.

Bola Tangkas

Saat memasuki detik-detik akhir pertandingan, Schmeichel melakukan penyelamatan yang luar biasa. Bola tandukan pemain tuan rumah Andreas Cornelius yang mengarah ke gawang berhasil ditepis.

Pendukung tuan rumah pun tercekat. Sorak-sorai mereka tertahan dan mereka pun batal merayakan kemenangan. “Andai saja gol itu terjadi, tentu mereka yang menang,” kata Manajer Leicester, Claudio Ranieri, seusai pertandingan.

Penyelamatan itu seperti ulangan dari yang terjadi di King Power Stadium, dua pekan lalu. Pelakunya juga sama, yakni Cornelius. Waktunya pun hampir serupa, yakni saat-saat pertandingan akan berakhir.

Aktor penggagal gol itu juga Kasper Schmeichel. “Kalau gol itu terjadi, kami bisa membawa satu poin,” kata Soren Solbakken, Manajer Copenhagen, kala itu.

Di King Power, Leicester berhasil memetik angka penuh dengan kemenangan 1-0. Saat menjalani laga tandang, kemarin dinihari, itu mereka ternyata tak sehebat dalam pertandingan pertemuan pertama. Kali ini tak ada gol dari The Foxes.

Bukan hasil yang diinginkan para pemain Leicester tentu saja. Pasukan Ranieri tampil buruk. Banyak penyebabnya. Salah satu di antaranya kondisi lapangan yang buruk yang beberapa hari sebelumnya dipakai untuk konser penyanyi Justin Bieber.

Kondisinya lapangan menjadi jelek. Bukan hanya tak enak dipakai, menurut Ranieri, tapi juga bisa membahayakan para pemain. “Lapangan sungguh mengerikan. Pemain kami sering terpeleset. Ini sangat membahayakan,” katanya.

Para pemain tuan rumah berhasil membuat mereka tak punya banyak kesempatan untuk mengolah bola, apalagi untuk mendapatkan peluang mencetak gol.

Juara Liga Primer ini sepanjang pertandingan tertekan. Mereka hanya mampu melakukan penguasaan bola sebanyak 44 persen. Tuan rumah tak hanya lebih baik dalam penguasaan bola, tapi juga berhasil melepaskan tendangan percobaan sebanyak 18 kali.

Namun Leicester patut bersyukur. Dengan hasil imbang dan hanya membawa satu poin, ini tetap berguna untuk kelanjutan nasib Leicester pada babak berikutnya. Leicester, yang punya 10 poin, unggul 3 angka dari Porto dan 5 poin dari Copenhagen.

Dengan perolehan poin sebanyak itu, untuk lolos ke babak kedua, mereka hanya butuh satu poin saja atau cukup bermain imbang dengan Club Brugge dalam pertandingan dua pekan mendatang.

Lolos ke babak kedua dalam kejuaraan ini sangat istimewa. Maklum, ini adalah debut mereka di turnamen bergengsi itu. Apalagi dibandingkan dengan pencapaian Leicester di Liga Primer. Pada musim ini, mereka masih berkutat di posisi ke-12. Ini sangat jomplang dibandingkan dengan keperkasaan mereka pada musim lalu, yang sejak awal berada di papan atas klasemen.

Kesempurnaan Leicester semakin lengkap dengan catatan clean sheet alias tanpa pernah kebobolan dalam empat laga yang dimainkan. Tak aneh bila Ranieri memuji Schmeichel setinggi langit.

“Saya sudah banyak melatih klub. Dia adalah salah satu kiper terbaik di Eropa,” kata Ranieri. “Kalau ada dia di gawang kami, saya pun merasa tenang.”

Kiper ini memang istimewa. Meski demikian, dia berada dalam posisi yang tak enak. Malam itu, Kasper Schmeichel menjadi orang Denmark yang paling dibenci di negerinya sendiri. Akibatnya, Schmeichel, yang punya rumah di sekitar stadion, menjadi sasaran kemarahan penonton.

Mereka menyoraki Schmeichel tanpa henti. “Tak mudah untuk bermain di sini. Tapi saya bersyukur, ini poin yang bagus,” katanya dengan riang.

MIRROR | GUARDIAN | DAILYMAIL | IRFAN

Baca:
Man United Ditekuk Fenerbahce, Mourinho Kecam Pemain
Rooney Sumbang Gol, Pogba Cedera, MU Ditekuk Fenerbahce 2-1

Source link

Artikel lain yang patut anda baca: